Sisa 2 Slot

Visi Anda, Keahlian Kami. Mari Bekerja Sama!

Business & Tech

Toko Online Sendiri vs Marketplace: Mana yang Lebih Hemat?

4 menit baca

Toko Online Sendiri vs Marketplace: Mana yang Lebih Hemat?

Kenapa Pertanyaan Ini Muncul Sekarang

Sepanjang 2026, biaya berjualan di marketplace terus bertambah: biaya admin Shopee hingga 10% untuk sejumlah kategori, biaya proses Rp1.250 per pesanan, dan biaya logistik baru di Tokopedia serta TikTok Shop. Rinciannya ada di ringkasan biaya admin marketplace 2026.

IDN Times melaporkan banyak penjual mulai membicarakan keluar dari marketplace, dan beberapa brand mengarahkan pembeli ke website resmi mereka. Pertanyaan yang wajar muncul: apakah toko online sendiri benar-benar lebih hemat? Jawabannya bergantung pada angka bisnis Anda.

Kalkulator Potongan

Ubah angka di bawah sesuai bisnis Anda. Nilai awal adalah contoh dari sumber yang dikutip di artikel ini, termasuk biaya iklan untuk mendatangkan pembeli ke toko sendiri.

Penjualan
Di marketplace

Contoh: 10% untuk Kategori A Shopee.

Contoh: Rp1.250 biaya proses pesanan.

Isi sesuai program yang Anda ikuti.

Di toko online sendiri

Contoh: domain dan hosting sekitar Rp3 juta per tahun.

Contoh: 0,7% untuk QRIS di Midtrans.

Contoh: iklan Rp50.000 per hari untuk mendatangkan pembeli.

Omzet per bulan

Rp 20.000.000

Potongan di marketplace

Rp 2.250.000

11,3% dari omzet

Biaya toko online sendiri

Rp 1.890.000

9,5% dari omzet

Dengan angka ini, toko online sendiri lebih hemat Rp 360.000 per bulan, atau Rp 4.320.000 per tahun.

Perhitungan belum termasuk ongkos kirim, pajak, dan biaya program khusus. Gunakan tarif terbaru dari Seller Center dan penyedia pembayaran Anda.

Perbandingan Marketplace dan Toko Sendiri

AspekMarketplaceToko online sendiri
Biaya per transaksiPersentase dari harga jual ditambah biaya per pesanan, naik seiring omzetBiaya pembayaran online saja; biaya lain bersifat tetap
PembeliSudah ramai dan terbiasa berbelanja di sanaPerlu didatangkan lewat promosi, media sosial, atau pelanggan lama
Kontrol tampilan dan brandMengikuti template platformBebas mengatur tampilan, cerita produk, dan alur checkout
Data pelangganTerbatas pada fitur yang disediakan platformTersimpan di sistem Anda untuk promosi ulang
Perubahan aturan dan tarifDitentukan platform, bisa berubah beberapa kali setahunAnda yang menentukan
Pekerjaan operasionalBanyak yang sudah diurus platformPromosi, layanan pelanggan, dan pengiriman dikelola sendiri

Biaya Menjalankan Toko Online Sendiri

Biaya Awal dan Tahunan

Menurut IDN Times, modal awal toko online sederhana umumnya Rp1 juta hingga Rp4 juta. Berikut rinciannya untuk toko berbasis WordPress dan WooCommerce.

KomponenKisaran biaya
DomainRp180.000 – Rp350.000 per tahun
Hosting (untuk WordPress + WooCommerce)Rp600.000 – Rp2.500.000 per tahun
Tema premium (sekali beli)Rp500.000 – Rp1.500.000
Iklan Google atau MetaMulai Rp30.000 – Rp100.000 per hari

Toko online kustom dengan fitur khusus, seperti sinkronisasi stok atau harga khusus reseller, dihitung berdasarkan ruang lingkupnya. Lihat kisarannya di panduan biaya pembuatan website di Lampung.

Biaya Pembayaran Online

Sebagai contoh, berikut tarif Midtrans, salah satu payment gateway di Indonesia. Tidak ada biaya pengaturan; biaya hanya dikenakan untuk transaksi yang berhasil.

Metode pembayaranBiaya
QRIS0,7% per transaksi
Virtual account / transfer bankRp4.000 per transaksi
GoPay dan ShopeePay2% per transaksi
OVO dan DANA1,5% per transaksi
Kartu kredit2,9% + Rp2.000 per transaksi
Tarif Midtrans, dicek 18 September 2026.

Kapan Memilih yang Mana?

Marketplace Lebih Tepat Jika

  • Anda baru mulai berjualan dan belum punya pelanggan tetap.
  • Produk Anda banyak dicari lewat kolom pencarian marketplace.
  • Tim Anda belum siap mengelola promosi dan layanan pelanggan sendiri.

Toko Online Sendiri Lebih Tepat Jika

  • Banyak pembeli Anda membeli ulang secara rutin.
  • Potongan marketplace sudah menggerus margin produk utama Anda.
  • Anda ingin membangun brand dan memiliki data pelanggan sendiri.
  • Anda punya kanal promosi sendiri, seperti media sosial, WhatsApp, atau reseller.

Strategi Menggabungkan Keduanya

Untuk kebanyakan penjual, jawabannya bukan memilih salah satu. Pola yang paling realistis adalah membagi peran setiap kanal.

  1. Marketplace untuk pembeli baru. Manfaatkan trafik dan fitur promosi platform.
  2. Toko sendiri untuk pembeli ulang. Beri alasan untuk kembali, seperti harga khusus, program member, atau bundling eksklusif.
  3. Mulai dari produk terlaris. Pindahkan dulu produk dengan margin paling tertekan, lalu kembangkan bertahap.
  4. Patuhi aturan platform. Pastikan cara Anda mengajak pelanggan ke toko sendiri sesuai kebijakan marketplace yang Anda gunakan.
  5. Ukur hasilnya setiap bulan. Bandingkan margin bersih per kanal, bukan hanya omzet.

Langkah teknisnya ada di panduan cara membuat toko online sendiri.

Kesimpulan

Marketplace unggul dalam mendatangkan pembeli, sedangkan toko online sendiri unggul dalam biaya per transaksi, kontrol brand, dan data pelanggan. Semakin besar omzet dan semakin banyak pelanggan yang membeli ulang, semakin besar pula manfaat toko online sendiri.

Sumber

  1. Kenaikan Biaya Layanan E-Commerce Tekan Seller IDN Times, 8 Mei 2026
  2. Shopee Kerek Biaya Admin Mulai 2026, Segini Nominalnya Metro TV News, 25 Januari 2026
  3. Pedagang Tokopedia dan TikTok Shop Kena Biaya Logistik Mulai Mei 2026 Katadata, 10 April 2026
  4. Berapa Biaya untuk Bikin Toko Online Sendiri Tanpa Marketplace? IDN Times, 5 Juli 2026
  5. Harga Midtrans Midtrans, dicek 18 September 2026
  6. Mulai 1 Oktober 2026, Transaksi QRIS hingga Rp 500.000 Bebas MDR, Ini Rinciannya Kompas.com, 19 Agustus 2026

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mana yang lebih murah, marketplace atau toko online sendiri?

Tergantung omzet. Potongan marketplace berupa persentase, jadi makin besar omzet makin besar potongannya. Biaya toko sendiri sebagian besar tetap, tetapi ada biaya promosi untuk mendatangkan pembeli. Hitung dengan angka bisnis Anda di kalkulator.

Apakah sebaiknya meninggalkan marketplace sepenuhnya?

Untuk kebanyakan penjual, tidak. Marketplace tetap efektif untuk menemukan pembeli baru. Toko online sendiri paling berguna untuk pelanggan yang membeli ulang dan untuk produk dengan margin yang paling tertekan biaya marketplace.

Berapa modal membuat toko online sendiri?

Menurut IDN Times, modal awal toko online sederhana umumnya Rp1 juta hingga Rp4 juta untuk domain, hosting, dan tema. Toko online kustom dengan fitur khusus dihitung berdasarkan ruang lingkupnya.

Bagaimana pembeli membayar di toko online sendiri?

Lewat payment gateway yang menyediakan QRIS, virtual account, e-wallet, dan kartu kredit. Di Midtrans, misalnya, QRIS dikenakan 0,7% per transaksi dan virtual account Rp4.000 per transaksi.

Apakah QRIS gratis untuk usaha mikro?

Menurut Kompas.com, mulai 1 Oktober 2026 Bank Indonesia menetapkan MDR QRIS 0% untuk transaksi usaha mikro hingga Rp500.000 dan 0,3% di atasnya. Tarif di penyedia payment gateway bisa berbeda, jadi cek tarif terbaru penyedia Anda.

Di Erkabased, kami membantu penjual di Bandar Lampung dan kota lain di Indonesia membangun toko online kustom yang terhubung dengan pembayaran online dan pengiriman. Ceritakan kanal penjualan Anda, dan mari kita hitung bersama strategi yang paling menguntungkan. Hubungi kami.

Build & Rebuild Website Book

Panduan Sukses Website Gratis

Dapatkan strategi ahli untuk merencanakan, meluncurkan, dan mengembangkan website Anda.Unduh panduan ini dan mulai bangun website yang lebih cerdas hari ini.

Artikel Terkait